Search

Cerita Inspirasi MPKMB

Nama : Sartika Widowati

NRP : A24100078

Laskar : 7 (B.J. Habibie)

Cerita Inspirasi Diri Sendiri

Saya diterima di IPB, fakultas pertanian, jurusan Agronomi dan Hortikultura. Mendengar kata “pertanian” saja orang-orang mengartikannya secara negatif. Baik mengenai prospek kerja ke depannya maupun teknologi dan tenaga kerja yang kurang ahli pada bidang tersebut. Orang-orang meremehkan saya mengenai bidang yang saya ambil di pertanian itu. Padahal, nilai SMA saya cukup tinggi dan sangta disayangkan bila saya masuk ke pertanian. Seandainya saya mengambil ITP, agribisnis, maupun FKH pasti diterima. Namun saya memilih AGH sebagai pilihan pertama dan tidak menuliskan pilihan kedua apapun. Setelah saya diterima di AGH IPB, banyak pertanyaan-pertanyaan dan kisah-kisah yang saya lalui.

Teman-teman saya, menanyai saya dimana akan kuliah. Saya menjawab di IPB, jurusan Agronomi, Pertanian. Langsung saja ekspresi mereka kecewa. ”Di pertanian kamu? Mau jadi apa? Nanti kerja apa? Apalagi di IPB. Banyak alumni-alumninya yang tidak bekerja. Tetanggaku pun begitu. Ia lulusan IPB, tapi hanya di rumah dan tidak kerja. Kalaupun aku menemui lulusan IPB yang bekerja, mereka kebanyakan kerja tidak pada bidangnya. Lulusan kehutanan saja malah kerja di Bank, lulusan ilmu tanah kerja di percetakan, dan lulusan peternakan malah kerja di komunikasi. Aneh kan? Coba kamu pikir-pikir lagi, mendinagn kamu jadi dokter. Masa depan terjamin. Mau kerja apa juga sudah jelas”. Itulah yang dikatakan teman saya. Jawabannya membuat saya kecewa dan ragu-ragu tentang IPB. Kenapa mereka tidak bisa berpikir positif dan mendukung saya?

Yang kedua oleh guru saya. Ia adalah seorang guru komputer. Saya rasa semua fungsi otaknya sudah digantikan oleh mesin. Ia selalu berpikir untuk memajukan teknologi dan mengikuti modernisasi. Dia pun bertanya pada saya. ”Diterima dimana kamu?”, tanyanya. ”di IPB Pak”. “Jurusan apa?” “Agronomi”. Lalu ia meledek saya. “Selamat ya, kamu diterima di pertanian. Banyak banget sawah di kecamatan Mejobo sana yang tidak terpakai. Itu menjadi tugas dan PR kamu selama kuliah”. Kata-katanya Sangay tajam dan menusuk telinga saya. Ia melanjutkan, “Coba kamu ngambil jurusan di Telkom. Semuanya sudah berbasis teknologi dan lulusannya pasti dapat kerja.” Saya hanya bisa diam.

Yang ketiga oleh kayak kelas saya. Ia bertanya kenapa ngambil jurusan AGH di IPB dan alasan masuk IPB. Saya pun menjawab karena IPB terfokus sama pertaniannya, sesuai dengan jurusan yang saya ambil”. Dia bertanya balik, ”O, mau jadi petani ya?”. saya sangat kecewa dengan pertanyaannya yang tidak bermanfaat itu. Memangnya kata ”Pertanian” identik dengan petani? Kalau saya ingin jadi petani kenapa saya harus kuliah?

Yang berikutnya oleh saudara dan sepupu saya ketika silaturahmi. Mereka bertanya ”Mana orangnya yang masuk IPB?” saya pun menunjukkan diri. ”Oh, kamu? Ya sudah nggak apa-apa, jangan berkecil hati”, kata mereka. Lagian siapa yang berkecil hati? Pikir saya. Bibi saya juga bertanya pada saya. ”Kamu yakin dengan pilihan kamu di pertanian?”. saya menjawab ”iya, Insyaallah”. ”Oh, ya sudah” Ia putus asa. Lalu, sepupu saya yang seorang juragan beras juga menanyai saya. ”Wah ini dia, si calon dokter kita” Lalu yang lain menjawab ”Bukan, dia kuliah di IPB jurusan pertanian” Lalu sepupu saya menjawab ”Ha? Pertanian? Bagus-bagus. Nanti kamu kerja sama saya ya. Kamu yang nanam, saya yang menjual berasnya” Mereka lalu tertawa.

Memangnya ada apa dengan pertanian? Kenapa semua orang menganggap pertanian itu adalah bidang yang memalukan dan tidak layak untuk mahasiswa? Padahal, bukankah pertanian adalah hal yang paling bisa dibanggakan oleh Indonesia? Itu adalah modal utama dan potensi Indonesia. Tanahnya subur, iklim kondusif, letak strategis. Kenapa tidak kita manfaatkan hal itu agar lebih maju? Bukankah Indonesia negara agraris? Kebanyakan anak muda memilih jurusan yang berkaitan dengan teknologi. Percuma kita selalu memgejar teknologi yang dilakukan oleh bangsa-bangsa lain seperti Amerika, Jerman, dan Rusia. Karena kita tidak mungkin bisa menyusul ataupun menyamai mereka. Bukankah lebih baik kalau kita memajukan bidang yang kita miliki? Kita hanya tinggal meningkatkan SDM di pertanian, dan mengelola pertanian dengan baik. Bayangkan, negara-negara lain tidak punya lahan seluas dan sesubur tanah kita!! Ini kesempatan kita. Tapi kenapa negara agraris seperti Indonesia masih melakukan impor bawang putih dari Cina yang padat penduduknya sampai tak punya lahan untuk bertani? Apa tidak memalukan? Bukan hanya itu, bahkan yang namanya beras saja masih impor dari luar negeri, padahal beras kan kebutuhan pokok manusia. Kalau pertanian di Indonesia masih dipasrahkan kepada petani-petani kecil, kapan Indonesia bisa maju?

Itulah pola pikir dan cara pandang saya terhadap pertanian. Selain untuk diri sendiri, kita juga bertanggungjawab memajukan dan mengabdi pada Indonesia. Semoga yang lain bisa lebih membuka pikirannya terhadap pertanian. Melalui kisah ini, saya jadi lebih termotivasi untuk menunjukkan pada mereka bahwa saya bisa dan saya mampu. Saya ingin membuktikan bahwa apa yang selama ini mereka pikirkan itu salah. Untuk itu, para mahasiswa pertanian, mari kita wujudkan mimpi bangsa Indonesia, terutama di bidang pertanian.

Nama : Sartika Widowati

NRP : A24100078

Laskar : 7 (B.J. Habibie)

Cerita Inspirasi Orang Lain

Kisah Bapak Achmad Sholihun Ikhsan yang lahir pada tahun 1973 di Indramayu, Jawa Barat sangat memotivasi kita sebagai pelajar di bidang kewirausahaan. Ia adalah seorang penyandang cacat fisik dengan keadaan kaki dan tangan yang tidak normal. Selama 13 tahun ia merasa malu dan tidak mau keluar rumah. Kerjaannya setiap hari hanyalah mendengarkan radio dan menonton televisi. Padahal acara radio dan tv pada zaman itu masih terbatas. Namun dari situlah ia belajar mendapat informasi dan berkomunikasi.

Setelah ibunya wafat, Bapak Sholihun meminta ayahnya untuk menyekolahkannya di pesantren. Akhirnya keinginannya itupun dikabulkan. Ia mengikuti sekolah pesantren selama enam tahun. Disana, ia tidak hanya diajari ilmu pengetahuan, tetapi juga belajar menghargai hidup. Di balik keterbatasannya sebagai penyandang cacat itu, ia harus bisa berpikir positif dan menerima cobaan yang diberikan Allah tersebut. Akhirnya ia yakin bahwa Allah juga memberinya kelebihan. Pola pikir semacam itu membuatnya bangkit dan bangun untuk berhenti dari keputus-asaan. Dengan keberaniannya dan sikap pantang menyerah, ia pun memutuskan untuk berkutat di bidang radio. Ia berhasil membangun sebuah stasiun radio dan pengusaha radio. Ia menyadari bahwa radio bukan saja alat hiburan, tapi alat komunikasi sosial yang bisa memberikan manfaat besar bagi banyak orang. Dan stasiun radio Kotamangga di Indramayu yang cukup terkenal itu adalah hasil upaya Bapak Sholihun selama ini. Berkat rasa sayangnya terhadap radio sejak kecil, menjadikannya orang yang sukses di bidang radio. Ia pun juga menjadi seorang pengusaha sukses dan sebagai pemilik berbagai aset bisnis seperti warnet dan juga memiliki lembaga pendidikan dengan murid mencapai 700 siswa.

Melalui kisah beliau, saya jadi lebih termotivasi dan terinspirasi. Orang yang cacat saja bisa berwirausaha dan pantang menyerah sehingga menjadi orang yang berhasil dan sukses. Lalu mengapa kita sebagai orang yang sehat dan normal tidak mempunyai semangat untuk berkarya seperti beliau? Kita pasti bisa menjadi lebih baik dari beliau yang adalah seorang pengusaha di bidang komunikasi. Mari kita tingkatkan semangat dan jiwa kewirausahaan kita.

Logo IPB

Logo IPB